Upaya Banding Sambo Kandas Di Pengadilan Tinggi DKI

Upaya Banding Sambo Kandas Di Pengadilan Tinggi DKI
Foto: Mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo

BidikNews24.com, Jakarta – Pasca putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memvonis mati Mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo, tidak menyurut semangat Sambo memperjuangkan hak hukumnya di tingkat Pengadilan Tinggi.

Upaya hukum Ferdy Sambo, sebagai langkah meringankan hukumanya, akhirnya kandas ditangan majelis hakim banding. Putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta, memperkuat putusan mati yang dijatuhkan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan terhadap Ferdy Sambo, dalam perkara pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

"Menguatkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan," Ujar Ketua Majelis Hakim Singgih Budi Prakoso membacakan putusan bandingnya di PT DKI Jakarta seperti dilansir CNN Indonesia Rabu (12/4/2023).

Majelis hakim menilai putusan pengadilan tingkat pertama sudah benar. Hakim banding menilai, Sambo bersalah melakukan pembunuhan berencana dan berupaya mengaburkan peristiwa penembakan tersebut. Sebagaimana pasal 340 KUHP dan Pasal 49 juncto Pasal 33 UU ITE.

Baca Juga: Ferdy Sambo Dituntut Hukuman Penjara Seumur Hidup

Sambo dinilai terbukti bersama-sama dengan istrinya Putri Candrawathi, mantan sopirnya Kuat Ma'ruf, mantan ajudannya Ricky Rizal, dan mantan ajudannya Richard Eliezer menghilangkan nyawa mantan ajudannya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Vonis yang dibacakan oleh majelis hakim dilakukan tanpa kehadiran terdakwa di ruangan sidang.

Banding ini diajukan oleh jaksa dan juga pihak Sambo selaku terdakwa. Jaksa menyatakan dalam memori bandingnya, putusan PN Jakarta Selatan sudah sesuai, karena sudah mengakomodir seluruh tuntutan jaksa dalam menjatuhkan vonis terhadap Sambo.

Sementara banding yang diajukan pihak Sambo, dikarenakan sejumlah alasan. Salah satunya, soal penuntut umum dinilai diskriminatif dalam mengajukan banding.

"Penuntut umum menjalankan tugasnya bersifat diskriminatif dalam melakukan wewenangnya," kata hakim membacakan memori banding jaksa.

Hal tersebut bukan tanpa sebab. Pihak Sambo menilai kepada Sambo dkk jaksa mengajukan banding. Sementara kepada Eliezer tidak, padahal hukuman dia jauh di bawah tuntutan jaksa.

Kemudian, jaksa juga dinilai tidak sungguh-sungguh dalam mengajukan banding ini. Selain itu, vonis ultra petita oleh PN Jaksel terhadap Sambo, dinilai tanpa pertimbangan yang lengkap. Di sisi lain, hukuman mati masih menjadi problematika.

Lalu, dalam menjatuhkan putusan, pengadilan tingkat pertama juga dinilai tidak independen, imparsial dan tuntas, sebab adanya pemberitaan media masa, sosial, dan hoaks terkait Sambo.

Kemudian, majelis hakim PN Jaksel juga dinilai mengesampingkan alat bukti dan fakta di persidangan terkait dengan memutus kasus Sambo.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN