Sultan Soroti Bapanas Soal Dugaan Bisnis Pasokan Dan Harga Beras

Sultan Soroti Bapanas Soal Dugaan Bisnis Pasokan Dan Harga Beras
Wakil Ketua DPD RI (Sultan B Najamudin), Soroti Bapanas Soal Dugaan Bisnis Pasokan dan harga beras/ Foto: suarainvestor.com

Bidiknews24.com, Jakarta – Pasokan dan harga beras, lagi-lagi menjadi polemik di Tanah air. Padahal, Indonesia merupakan negara agraris yang mampu menghasilkan produk pertanian dalam jumlah besar, termasuk beras.

Panjangnya rantai pasok mengakibatkan permainan tersendiri di level pasar. Apalagi, maraknya tengkulak, dianggap sebagai pemain penting dalam rantai pasok, karena mereka menghubungkan petani dan penggiling padi.

Menanggapi polemik tersebut, Wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin, meminta Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk tidak berbisnis dalam urusan pangan dan segera menuntaskan polemik terkait pasokan dan harga beras saat ini.

Baca Juga: Kinerja Tata Niaga dan Inflasi Sepanjang 2022

Sorotan Sultan ini, juga merespon pernyataan Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono, yang mengungkapkan data perkiraan produksi beras tahun ini. Sebab, menurut Maino, merujuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Bapanas, diperkirakan Indonesia akan mengalami defisit beras selama sembilan bulan. 

Sultan mengkritisi, pernyataan kekurangan pasokan beras selama sembilan bulan agak berlebihan. Sembilan bulan sama dengan 2 - 3 kali musim tanam. Sehingga Koordinasi lintas kementerian dan lembaga teknis khusunya kemerdekaan pertanian harus ditingkatkan.

Baca Juga: Mendag Bimbang Data RI Surplus Beras

"Saya kira pernyataan tersebut sangat spekulatif dan berpotensi memberikan dampak serius pada psikologis pasar. Juga ada aroma bisnis di dalam pernyataan yang tidak beralasan itu", ujar Sultan melalui keterangan resminya Minggu (05/03) kemarin.

Menurut Sultan, sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pemenuhan bahan pangan bagi masyarakat, pejabat Bapanas tidak perlu memperkeruh suasana pasar pangan. Karena dikhawatirkan pelaku pasar akan semakin liar memberlakukan harga jual beras di pasaran, sementara gabah petani dihargai murah di tengah panen Raya.

"Pada akhirnya pasar dan petani akan berkesimpulan bahwa Bapanas akan kembali melakukan impor beras dalam sembilan bulan ke depan. Bapanas sebaiknya fokus mengatur manajemen dan tata kelola pangan pokok yang saat ini mayoritas dikuasai oleh pasar", ungkapnya.

Lebih lanjut Sultan mengungkapkan, terjadi keseimbangan dan keadilan harga pangan baik di tingkat petani (on farm) maupun bagi pengguna akhir atau konsumen. Oleh karena itu, Bapanas harus mampu mengontrol setiap mata rantai pasokan pangan pokok, agar lebih efisien dan efektif mendistribusikan produk pangan hingga ke pelosok negeri.

"Bapanas melalui Bulog tidak boleh kalah dengan pelaku pasar dalam menyerap hasil panen petani. Tidak apa-apa jika harus rugi sedikit, asalkan gudang Bulog terisi penuh beras yang dibeli dari Petani pada saat panen Raya", kata Sultan.

 

 

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN