Pemerintah AS Terus Tingkatkan Tekanan pada TikTok

Pemerintah AS Terus Tingkatkan Tekanan pada TikTok
Aplikasi Tiktok Terus Mendapat Tekanan dari Pemerinta Amerika Serikat

BidikNews24.com - Dalam langkah yang semakin tegas, Presiden Joe Biden dan pemerintahannya telah mengintensifkan tekanan terhadap platform media sosial TikTok yang dimiliki oleh perusahaan teknologi China, ByteDance.

Langkah ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran terkait keamanan nasional dan kepemilikan yang berhubungan dengan China. Kontroversi ini telah merambah ke dunia hubungan dagang dan kebijakan teknologi internasional.

Ketidakpercayaan terhadap TikTok dimulai sejak beberapa waktu lalu, dengan klaim bahwa data pengguna Amerika dapat diakses oleh pihak China.

Langkah-langkah pencegahan pun diambil oleh beberapa negara bagian di Amerika Serikat, yang melarang penggunaan TikTok di perangkat milik pemerintah.

Pada Desember, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) telah mengeluarkan larangan serupa.

Ketika Presiden Joe Biden mengambil alih jabatan, tekanan terhadap TikTok semakin ditingkatkan. Langkah ini sejalan dengan kebijakan keras terhadap China yang ditempuh oleh pemerintahan Biden.

Adanya keraguan terhadap bagaimana data pengguna diolah dan kekhawatiran tentang kontrol yang dimiliki oleh China atas perusahaan asal China ini telah memicu langkah-langkah lebih lanjut.

Kontroversi TikTok dan kepemilikannya telah memperumit hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China.

Ketegangan ini tidak hanya mengenai teknologi, tetapi juga melibatkan kebijakan ekonomi dan politik.

Langkah pencegahan yang diambil oleh pemerintahan Biden juga bisa memicu respons serupa dari pemerintah lain di seluruh dunia.

Kasus TikTok juga mengilustrasikan kompleksitas geopolitik di era digital. Pertempuran untuk mengontrol data dan informasi menjadi semakin penting dalam era teknologi informasi.

Kontroversi TikTok merupakan pertarungan antara negara-negara dalam memegang kendali atas teknologi dan data, serta dampaknya terhadap hubungan internasional.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN