”In Memoriam” Ignas Kleden: dari ”Ars Inveniendi” ke ”Ars Tradendi”

”In Memoriam” Ignas Kleden: dari ”Ars Inveniendi” ke ”Ars Tradendi”
Foto: Sastrawan dan Sosiolog Ignas Kleden

Oleh: Charles Beraf, (Sosiolog; Direktur Detukeli Research Centre, Ende, Flores)

Di kalangan ilmuwan sosial Indonesia, Ignas Kleden yang lahir di Waibalun, Flores Timur pada 19 Mei 1948, tercatat sebagai cendekiawan yang amat disegani. Hal itu terutama karena daya upaya kritisnya untuk melihat persoalan kebangsaan dengan sisi tilik yang tak umum dan tak disangka kebanyakan orang.

Ditempa dengan tradisi filsafat yang kuat sejak di Seminari Agung Ledalero, Flores, hingga ketika menerabas masuk ke dalam dunia ilmu sosial ketika mengenyam pendidikan di Jerman, Ignas akhirnya membuktikan ketangguhannya sebagai ilmuwan sosial. 

Ia menjadi salah satu dari sedikit ilmuwan sosial yang selalu bisa merambah ke bidang apa pun—sastra, politik, hukum, budaya, dan teologi—dengan tetap kokoh pada kritiknya yang kaya dengan perspektif-perspektif baru.

Namun, pengetahuan yang luas dan dalam itu sama sekali tidak membuat Ignas dengan gampangnya digoda untuk sekadar mencari popularitas karbitan, seperti banyak terjadi di ruang media sosial atau pada kesempatan talk show di TV.

Dikutip dari Kompas.id, Ignas, seperti sahabatnya Daniel Dhakidae atau Mochtar Pabottingi, adalah intelektual yang memilih meruangkan intelektualitasnya dalam wadah yang selalu lebih berdaya menarik orang lain untuk turut berpikir secara mendalam, bukan instan dan remeh-temeh.

Buah pemikirannya dalam rupa esai-esai bernas yang hampir tak terhitung jumlahnya tersebar di berbagai media, seperti jurnal ilmiah, buku, dan majalah.

Ketika berbicara sebagai narasumber dalam seminar, kongres, atau konferensi, entah pada tingkat lokal, nasional, ataupun internasional, Ignas amat didengarkan. Bukan hanya karena perlakuan yang layaknya diterima seorang narasumber, tetapi terutama karena tentu selalu ada hal yang baru, rasional, dan mendalam dalam penyampaiannya.

" Ketika berbicara sebagai narasumber dalam seminar, kongres, atau konferensi, entah pada tingkat lokal, nasional, ataupun internasional, Ignas amat didengarkan".

Dari ”ars inveniendi” ke ”ars tradendi”

Dari mana atau dengan cara manakah Ignas menemukan perspektif-perspektif baru, rasional, dan mendalam? Jika kita mengendus perjalanan intelektualnya sejak dari rumah filsafat Ledalero, maka kita bisa mendapatkan gambaran bahwa kedalaman pengetahuan itu bukan perkara ”sekali jadi”.

Kedalaman pengetahuan itu dibuahkan melalui proses penenggelaman diri yang sungguh sejak dini dalam jagat ilmu pengetahuan. Kedisiplinan dalam hal ini sungguh terbentuk sejak dari keluarga kecil di Waibalun, kampung halamannya, lalu tumbuh dan hidup dalam debut intelektualnya kemudian.

Namun, patut dicatat bahwa Ignas bukan seorang intelektual yang mudah terkungkung dalam perspektif yang umumnya dipandang sudah baku dan selesai. Dengan selalu memiliki sikap kritis dan dialektis, Ignas berani menunjukkan bahwa perkara pengetahuan adalah perkara makna dan pemaknaan yang bisa dilahirkan dari konteks mana pun.

Dengan menaruh perhatian pada soal makna dan pada kemungkinan pluralitas makna, dalam keyakinan Ignas, otonomi sebuah konteks dapat terjaga dari kesewenangan menunggalkan makna di satu sisi, dan di sisi lain, ruang kebebasan dalam menemukan makna bisa terbuka lebar.

Untuk lebih jelas tentang hal ini, pandangan yang dilontarkan misalnya oleh filsuf Inggris, Peter Winch, tentang hubungan bahasa dan realitas bisa dipakai. Menurut Winch, ada banyak bentuk kehidupan yang bisa diakses dan ada banyak pula bahasa yang digunakan untuk melekatkan makna pada bentuk kehidupan tertentu.

Tidak ada bahasa super yang memiliki akses khusus terhadap realitas yang riil karena semua realitas adalah riil dalam konteks bahasa yang mendefinisikannya.

Asal-muasal pandangan Winch ini ditemukan dalam kritiknya terhadap antropolog Evans Pritchard yang, setelah membuat penelitian cukup lama atas masyarakat suku Azande di Afrika, menilai bahwa praktik perdukunan pada masyarakat suku Azande lebih rendah dibandingkan dengan ilmu pengetahuan pada masyarakat Barat.

Pritchard, dalam perspektif Winch, jatuh dalam cathaconic error, yakni menjadikan ilmu Barat sebagai standar untuk menilai praktik-praktik tradisional suku Azande—suatu standar asing yang menjauhkannya dari upaya menilai apa yang sesungguhnya dihayati atau dihidupi oleh masyarakat suku dimaksud.

Dapat pula dikatakan bahwa tanpa perlu terperangkap dalam penilaian ”hitam putih” atau ”benar salah”, suatu obyek atau fakta tertentu sangat boleh jadi merepresentasikan makna tertentu menurut sudut pandang seseorang, tetapi tidak dengan itu tertutup untuk dimaknai dengan cara tertentu pula dengan sudut pandang orang lain.

Atau secara berbeda, hal itu bisa diungkapkan dengan aforisme Latin berikut ini: “cognitum est in cognoscente secundum modum cognoscentis” (apa yang diketahui eksis pada orang yang mengetahui menurut caranya sendiri).

"Dengan selalu memiliki sikap kritis dan dialektis, Ignas berani menunjukkan bahwa perkara pengetahuan adalah perkara makna dan pemaknaan yang bisa dilahirkan dari konteks mana pun" 

Namun, lebih jauh dari sekadar perkara subyek dengan aktus memaknai, persoalan yang paling penting untuk dicari jawabannya, bagi Ignas, adalah apakah realitas tertentu hadir sebagai obyek yang sungguh bermakna tanpa harus bergantung pada subyek tertentu?

Dengan patokan manakah suatu realitas bisa terukur sebagai yang bermakna? Apakah makna itu ada seturut patokan sosial dan normatif yang ada pada masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan filosofis yang selalu mendorong Ignas untuk berusaha menemukan (inveniendi) hal (makna) baru dari konteks tertentu dan bahkan mengajarkannya (tradendi) dalam rupa esai-esainya yang bernas.

Ignas memang amat mencintai filsafat, tetapi dia tak hanya tinggal dalam ruang spekulatif-filosofis untuk melihat persoalan sosial.

Malah dia berhasil mengawinkan filsafat dan sosiologi, suatu pendekatan baru dalam jagat ilmu sosial yang cenderung positivistik-empiristik.

Itu sebabnya Ignas dikenal sebagai ilmuwan sosial yang amat kontekstual dalam pemikirannya tentang apa saja yang hidup dalam masyarakat (budaya, sastra, politik, hukum, teologi, dan lain-lain), tetapi tetap kritis dan dialektis melihat persoalan sosial.

Dia dapat dikenang sebagai satu dari sedikit ilmuwan sosial Indonesia yang percaya bahwa indigenisasi ilmu sosial, juga filsafat, adalah cara terbaik untuk mendekatkan ilmu dengan masyarakat sekaligus memungkinkan tumbuhnya rationalized life world dalam masyarakat.

Kita mengucapkan selamat jalan untuk Ignas, yang berpulang di Jakarta pada 22 Januari 2024, sembari meneruskan jejak pengetahuannya yang amat kaya dan dalam bagi Indonesia.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN