Cicak Vs Buaya Jilid 3 Dalam Pusaran Korupsi Formula E

Cicak Vs Buaya Jilid 3 Dalam Pusaran Korupsi Formula E
Foto Ketua KPK (Firli Bahuri) Dan Kapolri ( Jenderal Listyo Sigit Prabowo )

BidikNews24.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibawa pimpinan Komjen Pol Firli Bahuri, akhir-akhir ini menjadi sorotan publik. Upaya Ketua KPK Firli Bahuri memaksa pengusutan kasus Formula E, membuktikan kerisauan banyak kalangan ihwal rontoknya independensi Lembaga antirasuha tersebut.

Dikutip dari majala Tempo pada Minggu, (9/4/2023), sejak dilemahkan lewat revisi undang-undang pada akhir 2019 lalu, gejalah bahwa KPK semakin terpolitisasi kian nyata. KPK dibawa kepemimpinan Firli bahuri, tidak saja lumpuh tetapi juga menjadi arena politik.

Bukti terbarunya, perseteruan Firli dan Kapolri Jenderal Listio Sigit Prabowo dalam pemberhentian Direktur Penyelidikan KPK Brigjen Pol Endar Priantoro. Selain Endar, Sebelumnya KPK juga mengembalikan pejabat Polri lainya seperti Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Irjen Pol Karyoto.

Baca Juga: Buntut Kasus Formula E, Direktur Penyelidikan KPK Dicopot

Pemberhentian sekaligus pemulangan Endar ke Korps Bhayangkara tersebut tidak sejalan dengan surat keputusan yang telah dikirim Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke pimpinan KPK. Di mana sebelumnya, Kapolri menyurati pimpinan KPK yang intinya menugaskan kembali Endar untuk tetap menjabat Direktur Penyelidikan KPK.

Namun, surat penugasan itu ditolak oleh pimpinan KPK, yang kemudian mengembalikan Brigjen Endar ke Polri. Bahkan, KPK telah menunjuk Jaksa pada Kejaksaan Agung (Kejagung) Ronald Worotikan untuk mengisi jabatan Direktur Penyelidikan sebagai Pelaksana Tugas (Plt).

Perseteruan antara Ketua KPK dan Kapolri cikal bakal menjadi  kasus cicak versus buaya jilid tiga. Kasus cicak versus buaya sebelumnya terjadi pertama kali pada 2009. Saat itu, KPK mengusut keterlibatan perwira tinggi Polri, Susno Duadji, dalam kasus korupsi. Sementara itu, Kasus cicak buaya jilid kedua terjadi saat KPK menjerat calon Kapolri, Komjen Budi Gunawan, sebagai tersangka gratifikasi.

Beredar kabar, pengembalian 2 pejabat Polri tersebut, dilatarbelakangi kontroversi penanganan kasus Formula E yang dikaitkan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Kedua Jenderal ini diketahui tidak mendukung penetapan status penyidikan kasus Formula E Jakarta di era mantan Gubernur DKI, Anies Baswedan. KPK sudah meminta keterangan Anies pada September 2022 lalu.

Karena tak membendung Anies jadi tersangka, keduanya dilaporkan Lembaga swadaya masyarakat ke Dewan Pengawas KPK. Sulit tidak mengaitkan LSM ini dengan siasat penyingkiran Karyoto dan Endar, mengingat Firli bersih kukuh menyidik kasus dugaan korupsi Formula E.

Dalam kasus Formula E, memang KPK bergerak cepat. Sikap ini patut diapresiasi jika KPK menemukan ada indikasi penyimpangan keuangan negara dalam penyelenggaraan balapan mobil listrik ini. Jika tidak, KPK tidak boleh memaksakan perkara, apalagi dengan mengabaikan prinsip profesionalitas dan imparsialitas.

Perseteruan antara Ketua KPK dan firli Bahuri dan kapolri dalam pemberhentian brigjen Endar, hanya salah satu akibat pelemahan KPK.  Presiden Jokowi diminta bersikap adil dan bijaksana menengahi, perseteruan antara KPK dan Polri tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN