Boni Hargens: Presiden Putin Orang Eropa Pertama Yang Jadi Tersangka ICC

Boni Hargens: Presiden Putin Orang Eropa Pertama Yang Jadi Tersangka ICC
Pengamat Politik, Boni Hargens (Foto : Facebook/KataBoniHargens))

BidikNews24.com, Jakarta – Keputusan International Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Pidana Internasional, mengeluarkan surat penangkapan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan. Salah satunya, tanggapan datang dari Pengamat Politik Universitas Indonesia, Boni Hargens.

Menurutnya, keputusan ICC mentersangkakan Presiden Rusia, Vladimir Putin atas tuduhan sebagai aktor kejahatan, merupakan sebuah kemajuan besar dalam sejarah keberadaan ICC sejak 2002. Sebab,  Presiden Putin merupakan orang Eropa pertama yang menjadi tersangka ICC.

Semua orang yang mencintai kedamaian kata Boni, kecewa dengan keputusan Rusia dari awal yang melakukan perang (invasi) terhadap Ukraina, hingga membuat kedua Negara ini terjebak dalam peperangan yang berkepanjangan. Kondisi ini sangat berkonsekuensi terhadap keamanan global, terutama dari aspek perekonomian global.

Baca Juga: Presiden Putin Dituding ‘Aktor’ Kejahatan Perang

“ Saat ini sudah terasa dampak adanya resesi global yang mulai kelihatan, dan juga ancaman perang dunia ketiga. Tentu saja ini akan mempengaruhi tidak hanya relasi konflik, tetapi juga mempertajam ketegangan antara blok Timur dan blok barat. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa disini ICC sudah bertindak mewakili blok barat, meskipun nuansa itu ada,” Ujar Boni dikutip dari akun tiktok pribadinya.

Boni mengungkapkan, ada beragam pendapat yang muncul bahwa jika terjadi demikian, setidaknya ada it reflects the feeling of the global community, yang hari ini mengutuk tindakan perang di Ukraina, yang bermula dari keputusan Vladimir Putin. Keputusan Rusia ini, sangat menentukan level ketegangan global yang akan dialami kedepanya.

“ Potensi perang Dunia ke-3, tentu saja semakin membesar dan kita semua diminta untuk bangun dari tidur kita harus mempromosikan perdamaian. Entah melalui media sosial, kita harus berteriak tentang perdamaian, apakah itu juga melalui doa ataukah melalui perjuangan yang lain,” ungkapnya.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN