Berkayuh Menuju Asa 2023

Berkayuh Menuju Asa 2023
Foto: Munir Sara (Tenaga Ahli DPR RI)

BidikNews24.com, Jakarta - Apa yang dituahkan  Helen Keller (aktivis politik AS), bukanlah pijakan kosong. "Optimism is the faith that leads to achievement.” Maka dalam setiap jengkal kesempatan (opportunity), itulah pijakan optimism, patutlah dikapitalisasi, menjadi sebuah capaian.

 Dalam kalimat bertenaga Helen Keller itulah, kita menjemput asa ekonomi di tahun 2023. Merubah ketidakpastian, menjadi pasti. Indonesia punya pijakan optimisme, untuk konsolidasi ekonomi di tahun 2023.

 Nada dovish The Fed, seiring inflasi AS yang melandai ke 7,1% (year on year/yoy) pada November 2022 dari 7,3% pada Oktober 2022, mendedah asa baru. Era suku bunga FRR (fed fund rate) 75 bps telah surut. Pasca urun rembuk FOMC (The Federal Open Market Committee (FOMC)  pekan 14 Desember 2022, FRR hanya dikerek 50 bps.

 Seturut The Fed, bank sentral di negara-negara ekonomi maju lainnya, menampilkan nada dovish yang sama. Pelonggaran suku bunga kebijakan. Kekhawatiran akan resesi yang menimpa negara adikuasa itu pun mereda, pasca kinerja PDB AS telah meninggalkan trajectory negative, dan berada pada fase ekspansi, namun menyisakan sisi ambigu. 

 Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi AS di kuartal 3 2022 yang tumbuh 2,9%. Setelah sebelumnya negative -1,6% dan 0,6% pada kuartal 1&2 2022. Namun anomali, karena index Purchasing Manager Index (PMI) AS justru berbalik kontraksi 47,7 poin pada November dari bulan sebelumnya 50,4 point (PMI >50= ekspansi dan PMI <50 =kontraksi).

Halaman1 2 3 4

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN