Adaptasi Industri Makanan Minuman Hadapi Transformasi 4.0

Adaptasi Industri Makanan Minuman Hadapi Transformasi 4.0
Adaptasi Transformasi 4.0 di Industri Makanan Minuman

BidikNews24.com, Jakarta - Transformasi industri melalui penerapan Industri 4.0 tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga untuk mengakomodasi perubahan perilaku konsumen.

Di sektor industri makanan dan minuman (mamin), konsumen kini tidak hanya memprioritaskan produk yang sehat, tetapi juga menekankan pada aspek keberlanjutan dan transparansi produk.

Dalam era transformasi digital, perusahaan-perusahaan mamin dapat memprediksi perilaku konsumen untuk mendukung daya saing produk-produk mereka.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, menyatakan bahwa tantangan saat ini dihadapi oleh industri mamin adalah keberlanjutan, transparansi, dan kenyamanan bagi konsumen.

Baca Juga : Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Mempercepat Pertumbuhan Usaha

Hal ini disamping kepatuhan terhadap standar yang berlaku, seperti SNI, sertifikat halal, dan standar lainnya yang ditetapkan oleh BPOM.

Solusi untuk menjawab tantangan ini adalah melalui kemasan yang ramah lingkungan dan bahan baku yang berkelanjutan.

Penggunaan kemasan ramah lingkungan serta pendirian industri daur ulang kemasan oleh produsen mamin menjadi salah satu upaya untuk mencapai kriteria keberlanjutan.

Selain itu, transparansi juga menjadi aspek krusial. Informasi mengenai bahan baku, takaran, dan proses produksi perlu disampaikan secara detail kepada konsumen.

Dukungan teknologi digital dapat meningkatkan transparansi ini melalui platform digital.

Konsumen juga semakin menginginkan personalisasi produk. Di sinilah teknologi digital memainkan peranan penting.

Data-data besar (big data) yang dihasilkan dari pembelian online, media sosial, dan mesin pencari dapat dianalisis untuk memprediksi perilaku konsumen dan tren konsumsi.

Namun, perusahaan industri mamin menghadapi kendala dalam mewujudkan personalisasi produk. Personalisasi ini menyebabkan peningkatan unit stok (SKU) secara eksponensial, yang dapat mengganggu efisiensi produksi.

Namun, dengan langkah-langkah digitalisasi, industri mamin seperti PT. Greenfields Indonesia telah mulai menerapkan teknologi dalam proses produksi mereka, seperti penggunaan sistem manajemen mutu untuk mengatur kandungan lemak dalam susu mentah.

Ini membantu mereka memutuskan produk mana yang akan diproduksi dan mempercepat waktu pelepasan produk ke pasar.

Indonesia berpartisipasi dalam Hannover Messe 2023, pameran industri internasional terbesar di Jerman, sebagai bentuk komitmen dalam transformasi industri melalui teknologi digital.

Industri mamin Indonesia akan memanfaatkan platform ini untuk menampilkan transformasi dan inovasi yang telah mereka lakukan, serta menggambarkan peluang-peluang pengembangan industri mamin di Indonesia.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN KE KONTEN